Tampilkan postingan dengan label catetan Harianku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catetan Harianku. Tampilkan semua postingan
Selly Noverina
        Aku semakin lelah dengan keadaan ini, entahlah rasannya muak dengan semua rutinitas terapi ini. Namun, aku tidak boleh menghentikannya hingga keadaan ini benar-benar sembuh. Hari ini 17 Mei 2012 aku kembali ketempat ini. Seperti biasa, aku di temani kakak perempuanku Fini. Aku menerka bahwa pasien yang berobat hari ini pasti banyak sekali, yah wajar saja aku berkata seperti itu karena hari ini adalah hari libur. Seperti terapi yang sudah-sudah aku barengkat dari rumah pukul 07.00 sampai di sana pukul 08.00 dan mendapatkan nomor antrian 46.
        Sifat acuhku kembali menjadi ketika menginjakkan kaki disini. Rasannya aku ingin pulang saja dan menghentikan semuannya. Dua minggu kemarin aku berhasil meloloskan diri dari terapi namun untuk minggu ini sepertinnya tidak bisa. Sekuat apapun aku mencoba memberontak aku semakin merasa lelah dan melangkah kan kaki kembali ketempat ini.
           Sangat sulit untuk mengerti kedaanku sekarang ini. Seakan hilang arah, tersesat dan lupa jalan pulang. Saat duduk di tempat ini aku hanya berkutat dengan pemikiran-pemikran yang tak tentu arah. Coba saja kalian bayangkan betapa padatnya tempat ini, padat dengan manusia-manusia yang memiliki sakit yang beraneka ragam. Salah satunnya aku pasiennya.
            Diruang tunggu banyak terdapat anak kecil. Aku semakin miris saat datang kesini dan harus bertatapan langsung dengan mata bening anak kecil. Mata yang indah dan penuh ketulusan. Seperti cerita-cerita Sisi yang berbeda yang selalu aku tulis ketika selesai terapi, aku selalu mengatakan bahwa aku tidak kuat mendengar jerit tangis mereka menahan rasa sakit yang harus mereka lawan.
             Lihatlah, di teras depan tempat ini ada seorang Ibu yang menggendong anaknya. Ada yang berbeda dengan anak kecil itu, ia penderita hidrosefalus . Aku benar-benar merasa rapuh dan sangat rapuh saat berada di tempat ini. Aku lemah saat harus berhadapan langsung dengan mereka bocah kecil bermata bening. Aku hanya bisa menunduk lesu, melihat semua pasien yang lalu lalang di hadapanku.
                 Hari ini benar-benar kompleks sekali. Bukan hanya penderiata hidrosefalus yang kutemu namun ada juga adik kecil yang memiliki sakit ginjal. Astagfirulah, pikiranku semakin tidak menentu ketika berada di sini. Jujur, aku sudah lelah melakukan terapi ini.
                " Baru 4 kali tearapi saja aku sudah lelah dan menggerutu dalam hati. Bagai mana dengan mereka yang terus menjalani terapi hampir satu tahun. Bagai mana rasanya seorang Ibu yang harus menguatkan anaknya dan menemani anaknya terapi. Bagaimana rasannya seorang Bapak yang turut menguatkan istrinya saat menemani sang anak terapi. Bagai mana ? Bagaimana rasannya? "
                Apakah kalian tau bagaimana rasannya?. Aku mencoba menerka dan menyelami dunia mereka. Mereka orang tua yang habat dan tegar. Betapa luas lautan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Bagimanapun kedaan anaknnya orang tua akan selalu membanjiri anak-anaknya dengan sentuhan lembut kasih sayang. Meluangkan banyak waktu demi kesehatan anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin menelantarkan anaknya begitu saja. Setiap renggengkkan yang keluar dari bibir sang anak tak kan mampu membuat orang tua merasa ingin meninggalkan anaknya begitu saja. Yah, kasih sayang orang tua sepanjang masa.
                Selama menunggu waktu giliran di panggil, aku terus saja berjibaku dengan setumpuk pertanyaan-pertanyaan yang menghujam diriku. Hari ini banyak mobil-mobil mewah yang turut bertengger di tempat parkir. Semua mobil mewah itu adalah mobil pasien. Mereka yang menaki mobil mewah itu kebanyakkan lansia yang memiliki sakit stroke. Jelas saja yang membawa mobil bukan mereka yang sakit melainkan anak-anak mereka.
              Anak yang sayang terhadap orang tuannya, menggendong orang tuannya dari mobil hingga kedalam ruang tunggu. Begitu banyak lansia yang sakit stroke terapi hari ini. Aku semakin merinding melihat semua kondisi seperti. Tuhan, kuatkanku dan mereka.
          Semoga kelak jika kedua orang tua kita tak berdaya lagi dalam menitih langkah. Kita tetap menjaga mereka  dan merawatnya sebagai mana ketika kita kecil di rawat mereka dengan penuh kasih sayang. Aamiin.
          Untuk hari ini, aku mendapatkan giliran terapi jam 2 siang. Menunggu sangat lama dari jam 8. Namun, banyak sekali diskusi yang bisa aku lakukan dengan diriku sendiri. Sedikit renungan untuk hari ini, sering kali kita mengisi hari kita dengan mengeluh dan mengeluh. Padahal di luar sana masih banyak sekali mereka yang harus berjuang melawan rasa sakit tetapi mereka masih bisa melewati hari-harinya dengan  sejuta senyum untuk orang-orang terkasih. Sudahkah kalian berucap syukur atas nikmat sehat yang di berikan Allah SWT kepada kita?
          Untuk saat ini aku memang tidak mengerti apa yang sedang bergemuruh dalam jiwaku. Namun, sekuat mungkin aku berusaha untuk terus melangkah meski dalam langkah tatih. Esok hari akan terus ku tuang goresan ini karena aku tau terapi yang harus kujalani ini masih sangat lama.
Aku tidak sendiri, ada mereka dan Allah SWT dalam langkah.
^_^



          
Selly Noverina
     Tanggal April 2012, kembali lagi aku ketempat ini. Pengobatan alternatif kaki. Rasa enggan kembali menyergap tubuhku, entah mengapa.  Pukul 09.00 WIB aku baru keluar rumah menuju tempat pengobatan itu. Pasien yang datang pada hari ini lumayan ramai. Kali ini aku mendapatkan nomor urut antrian 46.
     Hari ini aku pergi bersama adek kecilku Pandu Nariyah, karena lagi libur sekolah ia juga ingin ikut kesana. Hem, dengan terpaksa aku mengajaknya pergi bersamaku. Untuk hari ini, ruangan ini dipenuhi oleh orang-orang yang sudah dewasa dan lanjut usia. Ada juga anak kecil namun hanya satu. Anak kecil ini tidak bisa berjalan, Dia anak laki-laki, tidak bisa tenang namun ketika ada alunan musik yang di letakkan di telinggannya ketenangan bisa ia rasakan.
     Menunggu itu memang membosankan, terlebih aku yang harus bisa bersabar ketika berada di kumpulan orang-orang lanjut usia. Membosankan sungguh membosankan. Aku hanya bisa memandangi orang-orang disini.
     Cerita hari ini banyak di warna oleh lansia yang terkena stroke, banyak dari mereka yang tidak bisa berjalan. Memapah langkah dengan bantuan tongkat dan mereka membutuhkan bantuan topangan yang kuat dari seorang anak atau istri mereka. Yah,karena hari ini pasien stroke semuanya laki-laki.
       Ada kejadian yang cukup menyita perhatian kami semua yang berada di dalam maupun luar ruangan. Seorang pasien laki-laki dengan kondisi stroke dan telapak kakinnya membengkak. Dengan sabar sang istri memapah langkahnya dan mengajaknya masuuk kedalam ruangan. 
       " Sudah lama suami saya sakit, bahkan saya sudah pernah mengajaknya untuk berobat ke Singapore".
      Semua orang pasti ingin sembuh, namun semuanya harus sabar dan penuh harap kepadaNya, karena semuanya bersumber dan akan kembali kepadaNya.
      " Tungu sebantar ya Pak!" Pinta Pak De kapada Pasien itu.
       Lima menit kemudian Pak De keluar ruangan dan membawa pukul besi. Taukah kalian apa yang hendak dilakukan oleh Pak De?. Pak De menggunakan pukul besi itu untuk memukul mukul kaki pasien ini yang membengkak.
       Teriakkan demi teriakkan kembali menghiasi ruangan ini, bahkan pasien ini tidak kuasa menahan air mata saat pukulan demi pukulan mendarat di telapak kakinya. Sang istri hanya bisa menahan tangan suami dan berkata jangan lupa berdoa jangan hanya bisa berteriak-teriak. 
      Hem, cukup menegangkan. Namun, suasana menegangkan itu tidak berlangsung lama. Kembali ruangan hening dan berali kepadapasien berikutnya.
      Tidak ada hal yang menarik perhatianku untuk hari ini, karena aku sudah terlalu bosan menunggu dari jam 9 dan akhirnya aku di panggil tepat pukul 11. 25. Masih dengan rasa sakit yang sama tentunya. Entahlah, rasannya aku mulai menyerah saja.

Selly Noverina

          Ada sisi yang berbeda. Kembali lagi di tempat ini, pengobatan alternatif saraf kaki. Pukul 06.40 WIB sudah keluar rumah. Tepat pukul 07.30 WIB sampai di sini. Aku sakit apa ya ? Gak tau juga sakit apa.
         Tempat ini memiliki sudut yang jauh bernilai, menurut pandanganku. Mungkin banyak pasien yang tahu tapi tidak memiliki kepekaan jiwa. Tempat ini sama seperti rumah sakit. Hanya saja di sini tidak ada bau khas obat-obatan. Jelas saja tidak ada, karena tempat ini kan merupakan pengobatan alternatif yang menggunakan batu ke titik pusat sarf kaki.
           Hari ini merupakan hari ke dua aku berada tempat ini. Mau tau bagaimana rasanya?. Sakit, sakit, sakit, sakit sekali karena saraf kaki kita di pijat dengan batu dan tangan. Hari pertama di pijat dengan batu, rasannya mau nangis saja. Namun, malu akh sudah besar masih nangis. 
        Ruang tempat pengobatan ini sama seperti ruang tamu, pasien yang datang mengambil nomor antrian lalu duduk menunggu nomor antrian, sama sih dengan sistem rumah sakit. Bayangkan saja pada hari pertama aku berobat ke sini, sudah keluar rumah dari pagi sekali masih juga dapat nomor urut 44.  Banyak sekali orang yang berobat ke sini. 
         Hari ini, minggu 8 April 2012 aku kembali menginjakkan kaki ke tempat pengobatan alternatif. Terlalu banyak kisah yang ingin aku ceritakan ketika berada di sini. Sedih sekali rasannya, hari pertama berobat ke sini saya banyak mendapatkan pelajaran kehidupan yang berharga.
        Sekedar berbagi kisah untuk kalian. Aku melihat sisi berbeda dari kuasa Allah SWT. Kalian tau sisi apakah itu ?. Dari anak kecil sampai orang tua ada di sini dengan jenis sakit yang berbeda tentunnya.
    “ Ayuk, payo belek be. Aku dak galak berobat kesini, payo balek Yuk, balek “.  Renggekku kepada Ayuk Fini yang telah berhasil membawaku untuk pergi berobat. Jujur saja aku paling malas untuk pergi ke dokter apa lagi ke pengobatan alternatif. Rasannya aku tidak pernah sakit, namun aku tak pernah tahu apa yang terjadi pada sistem tubuhku ini.
       Mungkin, di dalam tubuh ini memang ada sebuah penyakit. Aku capek untuk mengkonsumsi obat-obatan dari dokter. Di kamarku saja masih banyak stok obat-obatan dari dokter waktu aku koloid. 

    “ Jleb, rasannya jantungku berhenti berdetak sebentar, lihat anak kecil itu, anak kecil yang tidak berdosa dan lugu itu kesulitan menarik nafasnya. Astagfirullah, kakinya lihat kakinnya. Kakinya kecil sekali. Ya Allah, berikanlah kesembuhan untuk bayi kecil ini, berikanlah kekuatan untuk kedua orang tuannya. Ayah anak kecil ini tak henti-hentinya mengecup kening anak laki-laki mungil ini serta mendekap dengan erat saat nafasnya kembali tersengal. Tau kah kalian anak laki-laki tak berdosa ini lumpuh layu. Jangan tanyakan kemana Ibunya, karena Ibunnya telah keluar dari rungan ini. Sang Ibu tak kuasa menahan air mata. Coba kalian tatap mata bening sang Ibu, mata yang penuh doa untuk sang putra pertama tersayang. Sebelum keluar rungan Ibu mengecup kening bayi laki-laki ini lalu menunggu di luar rungan.”
    Kembali aku ke dalam dimensi yang tidak pernah aku mengerti. Teriakkan demi teriakkan terus saja menghiasi gendang telingaku. Astagfirullah, rasannya aku ingin berlari-berlari sekuat mungkin dan meninggalkan tempat ini.
    Hei, ada anak perempuan kecil masuk keruangan ini. Cantik sekali, wajahnya lucu dengan potongan rambut berponi dan pendek sebahu. Anak kecil ini bisa mengalihkan rasa ingin pulangku sementara waktu. Tapi, ada yang aneh dengan anak kecil ini. Aku melihat ada celemek  yang tergantung di leher anak perempuan ini.
    “ Mengapa anak ini menggunakan celemek ya ? “ Pikirku sejenak.
    Lihat, anak perempuan ini mencoba menghampiku. Kembali aku tercenggang dan kaget. Kalian tahu mengapa ?. Anak perempuan ini tidak memiliki sistem kesimbangan di dalam tubuhnya. Meski ia sudah cukup umur ia tidak bisa berdiri, sekuat apapun ia berusaha untuk berdiri ia akan terus terjatuh. Celemek yang di pasang di lehernya itu ternyata alas bajunnya agar tidak basah oleh air liur yang terus berjatuhan.
    “ Ayuk, adek mau salim”. Anak kecil ini menghampiriku dan memberikan tangan kananya lalu menyalimi tanganku, namun bukan salim tangan pada umumnya karena jari tangannya tidak rapat dan ia salim tangan dengan cara mengigit tanganku.
    Kembali nuraniku terusik, aku mengelus kepala anak perempuan ini. Anak yang manis dan sopan. Meski ia memiliki sisi yang berbeda dengan anak perempuan yang lainnya. Mungkin karena aku menyukai anak kecil, aku merasa terusik dengan kondisi anak kecil yang berada di dekatku hari ini. Anak sekecil ini sudah harus berjuang untuk melawan penyakit. Hanya mampu berdoa semoga mereka lekas sembuh. 
   
                                               ♥♥♥
    Hari ini, minggu 8 April 2012 kembali aku akan membawa sejuta renungan untuk kalian yang membaca goresan pena ini. Agar kita tidak pernah lupa bersyukur atas setiap nikmat kesehatan yang di berikan Allah kepada kita. Banyak nikmat Allah yang seharusnya kita syukuri, banyak sekali.
    Titahku tertatih pada sudut etalase kebisuan, aku Selly Noverina yang hanya bisa menggoreskan sebuah tinta emas dalam perjalanan pada sudut yang terkadang terlupakan. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menjangkau kalian yang ku rindu dalam derap langkahku saat ini.
    Rasa enggan untuk berobat itu kembali muncul, namun aku tak tega melihat Mama yang terus mendesak agar aku mau berobat. Mungkin, pengobatan ini akan berjalan cukup lama. Kalau masih juga sakit, jalan terakhir aku harus rela di bawa ke rumah sakit.
    Masih di dalam sudut ruang yang sama dalam waktu yang berbeda dan nomor urut yang berbeda. Untuk hari ke dua ini aku mendapatkan nomor urut 22. Lumayan kecil untuk menunggu panggilan antrian.
    Kali ini aku telah mempersiapkan headset  dan batre hendphone dengan penuh untuk menemaniku menunggu nomor antrian yang menjenuhkan. Di temani dengan beberapa aliran music rasannya lebih nyaman.
    Pagi ini , orang datang masih sedikit. Ada sepesang suami istri, seorang Ibu dan anak perempuan yang kira-kira umurnya sama denganku. Kali ini aku datang lebih awal dan berharap bias cepat pulang.
    Kalian tahu tidak, hari ini aku kembali mendapatkan kejutan dari Allah. Aku bertemu dengan anak autis. Kebiasannya sama seperti aku, menyendiri dalam duniannya sendiri. Panggil saja ia dengan Elang, ia berumur enam tahun. Kelainan yang ada pada dirinnya terjadi semenjak ia kecil. Umur tiga tahun ia baru bisa menyebut kata Mama.
    Sungguh, betapa berartinnya sebuah panggilan Mama untuk orang tua yang telah melahirkan kita. Setiap orang tua kita pasti mempunyai sisi yang tak pernah bisa kita tembus sebulum kita menjadi orang tua juga. Hanya saja, kita seakan lupa bahkan pura-pura melupakan setiap peluh orang tua kita ketika kita melangkah menjadi seorang anak yang tumbuh dewasa.
    Mungkin tidak terhitung betapa banyak goresan yang kita buat untuk kedua orang tua kita. Goresan luka, ya goresan luka yang membuat mereka menitihkan air mata tanpa pernah kita tahu dan merenggkuhnya.
    Kembali pada cerita Elang. Seorang Ibu selalu mencurahkan kasih sayangnya untuk anak yang ia cintai. Bagaimana pun keadaan kita. Mama Elang sangat menyayangi anaknya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ia punya.
    Elang merupakan anak autis cerdas. Ia bisa bercerita dengan dua sisi. Daya tanggkap dan imajenasinnya jauh melesat dari anak semurnya. Ia berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa Palembang.
    “ Anak saya ini Autis, namun ia selalu membuat saya tegar dan kuat dalam menerima ketentuan Allah. Elang memang sedikit berbeda dengan adiknya. Adiknya hiper aktif dan lebih condong menggunakan bahasa Inggris, meski umurnya baru tiga tahun..” Sambil mengelus kedua kepala anak laki-lakinnya.
    Subhanallah, hampir luruh air mata orang tuannya bercerita dengan orang-orang di ruangan ini. Elang dan Fajar mempunyai sisi yang berbeda. Allah itu memang Maha Adil, Allah selalu memberikan sebuah kelebihan dan kekurang pada setiap hambannya.
    Elang dan Fajar saling melengkapi dalam kehidupan kedua orang tuannya. Begitu pun kita, dalam keluarga kita pasti saling melengkapi. Perbedaan yang ada dalam diri kitalah yang membuat kita menyatu dalam lingkup kelurga.
    Nama Elang menempati posisi yang berbeda dalam lingkup filosofiku. Elang memiliki makna tersendiri di pelataran hatiku, karena Elang selalu saja mengajarkanku banyak makna kehidupan. Termasuk anak kecil ini, cuek dan penuh teka-teki yang tak bisa aku tembus. Elang itu mampu berdiri di atas kakinya sendiri meski ia berada dalam kegetiran untuk bertahan hidup. Terbang, terbang, terbang tinggi menembus gumpalan awan. 


                                                ♥♥♥

    Kembali pada pasien yang membuatku sedikit mengecilkan volume nada pada headphone pinjaman. Sudah lama aku tidak memiliki hendphone, karena kamarku di bobol maling jadi sampai sekarang aku memakai hendphone pinjaman.
    Entahlah, aku memiliki sudut pandang yang berbeda pada perempuan ini, seorang perempuan usianya jauh lebih tua dariku. Menggunakan busana muslimah, wajahnya pucat pasi. Hati kecilku berkata bahwa permpuan ini mempunayi sakit kanker. Aku tidak pernah tahu dari mana hati ini bisa berkata bahwa ada kanker yang bertengger pada tubuh Ibu ini.
    “ Ibu sakit apa ? “ Tanya Ayuk Fini, karena mereka duduk bersebelahan.
    “ Sakit Kanker dan migrant.”
    Benarkan, apa kataku. Ternyata Ibu ini memiliki sakit sakit kanker. Tahukah kalian, aku terlalu takut dengan namannya sakit kanker. Kanker itu telah berhasil menduduki kesehatan beberapa orang yang kukenal. Orang yang terkena kanker itu memiliki rasa sensitif yang jauh dari orang normal.
    “ Heemm, sabar ya Bu.” Hanya bisa menghela nafas panjang, dalam repal doa.
    SEGALA SESUATU MELALUI DOA. Tulisan ini terpajang di dinding ruangan ini. Pak De yang membantu orang sakit di sini hanyalah pelantara yang menyembuhkan hanyalah Allah.  Itulah makna yang dapat aku jabarkan di sini, ketika tulisan itu terpasang di dinding.
    Puncak kesehatan kita hanya Allah yang bisa menyembuhkan, bukankah benar begitu ?.
Kita berusaha dan di iringi dengan doa kepada-Nya.
"Wahai orang-orang yang beriman. Jadikanlah sabar dan sholat sebagai menolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah : 153).
    Melangkah teruslah melangkah, jangan pernah ragu menggapai asa meski engkau memiliki sisi yang berbeda dari orang lain. Kita punya hari esok yang cerah, secerah semburat senyum pada pengharapan kepada-Nya.
                                               ♥♥♥
   
    “ Nomor 22”. Panggil Pak De.
    Akhirnya datang juga giliranku, masih dengan rasa sakit yang sama saat sarafku di tekan dengan batu. Namun, aku hening tak bergeming pada teriakkan seperti pasien yang lainnya. Aku lebih memilih menutup rapat mulutku dan membiarkan teriakkan itu bergeming pada jiwaku saja.
    Jiwa yang mulai pongah dalam ketiadaan arti. Jiwa yang terkungku dalam bait yang tak di mengerti…………

Palembang, 8 April 2012


   

   
Selly Noverina
       Apa kata yang tepat untuk protes terhadap waktu ?. Tidak ada yang bisa memprotes waktu apa lagi setiap ketentuan yang telah diberikan oleh Nya kepada kita. Hari ini, 26 Maret 2012 kembali kudapati jiwa pongah kembali menghampiri.
    Entah mengapa angka pasti itu kembali membuat jiwaku gamang tak tentu arah. Bagaikan dandelion yang terbang tak tentu arah. Aku  berusaha bertahan dan bertahan dengan semua kondisi ini. 
   Hari ini, MID Kalkulus dan Fismat. Aku berusaha belajar semaksimal mungkin terutama Kalkulus karena aku mengulang mata kuliah ini. Percuma mengulang pelajaran jika tidak bisa memahaminya.       Pada nyatanya memang Kalkulus tidak berjalan dengan harapan. Bayangkan saja dari 8 kali pertemuan, Aku hanya masuk 3 kali pertemuan. GILA...
    Kegilaan ini bukanlah mauku, namun keadaan yang membuat aku harus menjalani semua ini. Jadwal Kalkulus dan Fismat sering kali bertumburan. Dosen bersangkutan mengajar di dua kelas yang berbeda dalam waktu bersamaan. Saat dihadkan dengan pilihan, Aku, Anna dan Rezky harus melilih Pelajaran Fismat karena itu matakuliah wajib.
     Dua hari berturut-turut belajar hitungan dan berusaha fokus dalam persipan MID hari ini. .


Fismat

Tepat jam 8 pagi udah keluar rumah, nyampe kampus kelas masih ada penghuninya. Menunggu sampai jam 10. Wjah-wajah tegang di pinggir teras kelas mulai tampak dari semua mawasiswa Fisika 2010. Entah sindrom apa yang membuat kami begitu tegang.
Termasuk aku manjadi manusia tegang.

Selly Noverina
Mengapa jiwamu resah ?
Engkau memberontak..
Bukankah semua telah di gariskan,
sejatinnya semua ritme kehidupan harus engkau hadapi.

Lelapkan jiwa mu pada peraduan malam.
Selly Noverina
         Hujan kali ini mengundang aroma tangis yang menggelayuti jiwa-jiwa yang pongah. Ada kejenuhan dan ada rasa takut yang teramat dalam. Hari ini tanggal 5 Januari 2012, saat dimana aku menyadari betapa kopongnya otak ini dalam bidang fisika. Ingin menyerah saja rasannya, namun entahlah sampai kapan aku bisa bertahan dengan kedaan seperti ini manakala semakin ketas semakin berat mata pelajaran yang akan ku tempuh.
         Ada ketakutan yang teramat dalam, ada seribu tanya dalam hatiku apakah aku mampu untuk terus menjalani kehidupan yang keras di Fkip Fisika ini? Semoga dan harus bertahan tentunnya. Hem, setidaknya aku harus mempersiapkan mental dan jiwa untuk nilai akhir disemester ini. Berapapun itu aku harus siap karena nilai mid semsester mekanika dan fisika sekolah yang kudapat hari ini kecil sekali. Mekanika hanya 40 dan Fisika sekolah 35.
           Hujan pada senja ini, membuatku merenung kembali bahwa masih banyak hal yang harus ku perbaiki. Jangan hanya terdiam meratapi nasip ketika nilai-nilai anjlok. Meratapi dan menagis tidak akan merubah nilai hanya bisa membuat hati lega.
           Tetap semangat wahai jiwaku, jangan menyerah. Perjalananmu masih panjang.!
Gagal dan hancur belum tentu terlambat...
Selly Noverina

Aku mulai membenci semua keadaan ini. Lelah yang amat sangat terus menerjangku, menertawakan setiap kesendirian yang ku jalani saat. Tak ada satu pun yang perduli atau mereka acuh terhadap semua keadaan yang sebenarnya melihat lihat ini ? Sungguh meringis melihat semua keadaan ini.Rasa penat itu titba-tiba datang meghampiriku, menggetuk altar hati dan berbisik akan semua kelelahan yang selaluu ku terjang.
 Dari bilik jendela kayu yang lapuk sang bayu menyelinap masuk menampar-nampar semua sendili tulang. Langit hari ini mendung, awan pun menangis. Beberapa hari ini atap rumahku terus di basahai tangisan hujan. Tubuh mungil ini pun selalu menari-nari indah mengikuti irama tangisan awan, aku suka menari bersama awan karena aku dapat menitihkan air mata kepenatanku bersama tangisan awan tanpa ada yang bisa membedakankannya karena kami satu bening sebening embun yang setia pada paginnya.        
♥♥♥
Dari luar kamar hujan begitu daras, aku merasakan ada kesejukkan yang di bawa oleh tangisan sang hujan. Uadara yang ia berikan menusuk-nusuk tulangku dan membuat tubuhku kaku dang mengigil dengan hebat. Gemuruh petir pun silih berganti bersahut-sahutan. Setidaknya keadaaan ini mampu membuat jiwa yang gamang ini bisa lebih tenang.          
Jiwa mungil ini tak pernah tahu sampai kapan ia harus bertahan dalam semua keadaan yang sebenarnya membuat ia merasa kesakitan yang amat sangat. Saat di mana ia harus berjuang melawan semua rasa sakitnya ia terus berusaha memberikan kesejukkan kepada benih yang ia tanam berharap suatu saat nanti benih itu bisa tumbuh dan tumbuh menjadi kokoh.      
   Entah ini yang ke berapa kalinnya aku menitihkan air mata. Kedua mataku mengabur oleh cairan bening yang terus mengenang. Bayangkan saja dua bulan terakhir ini ada dua ivent yang sangat besar yang melibatkan namaku sebagai panitia.  Semua itu menyita waktu istirahat yang seharusnya harus ku jalani karena dokter sudah pernah menyuruhku banyak-banyak istirahat.
            Hening menggelayuti tubuhku setelah pulang dari aktifitas kampus hari ini.  Hari ini benar-benar melelahkan karena dari pagi hingga aku menginjakkan kaki ke rumah handpon selalu bordering.   Saat pelajaran statistika berlangsung ada 10 panggilan tak terjawab, bukan sengaja tidak menjawab karena lagi belajar handpon itu tetap tergeletak di atas meja. Saat ada waktu luang langsung saja tangan ini mengangkat handphon yang merenggek itu.
“ Gimana tempat acara hari minggu besok, sudah kamu urus ? “ Tanya seseorang di sebarang sana.
“ Iya, suratnya izinnya sudah aku ketik dan tinggl menemui penjaga tempatnya saja.” Jawabku dengan ramah.
“ Oke, kalau semuannya sudah di urus kamu lanjuntin mengurus kansumsi untuk acara minggu besok ya.”
“ Iya.” Aku menepak jidatku sendiri.
Kapan aku ada waktu sejenak untuk melepas penat. Sedih sekali rasannya melihat organisasi yang ku geluti di kampus ini seperti tak ada pneghuni. Awalnbya kami beranggotakan 50 lebih dan semakin hari semakin menyusut. Kini, aku merasa sendiri di dalam organisasi itu. Setan pun mulai mengahntui untuk poergi saja dari lingkaran keadaan. Batin ke\cil ini menjerit, merontah untuk bertahan bukan karena apa-apa yang ku pikirkan adalah nrasa tanggung jawabku kepa Allah kelak.
“ Sesulit apa jalan yang ku tempuh aku harus bisa mempertanggung jawabkannya karena itu pilihanku. Jangan pernah mundur di tengah jalan dan membiarkannya terlantar karena tidak ada rasa tanggung jawab.”
♥♥♥
Tak berhenti sampai sini saja, masih saja banyak pesan singkat yang masuk menannyakan masah kegiatan AMS. Sedikit pun tak pernah tangan ini mengajung kan untuk meminta menjadi panitia namun nama ku selalu jadi daftar barisan panitia. Sebel.
“ Assalamualaikum, benar dengan mbk Selly ? “
“ iya, afwan ini siapa ya ?
“ Mbak, saya Ibu rumah tangga, saa mau mendaftarkan anak lomba puisi. “
Perbincangan antara Ibu itu berlangsung cukup lama, mungkin sekitar 30 menit. Hari ini bener-bener buat kepala ku pusing, sampai malam pun aku masih di cari. Udah mirip burunan aja. Penat rasanya, sempet kepikiran untuk matiin no utama hp ku dan mengaktifkan no hp yang  hanya di ketahui satu orang saja.
♥♥♥

           Akhirnya aku tenggelam bersama melewati kepenatan hari ini bersama suara dan nyanyian di tengah malam bersama keheningan